Derby Della Capitale, Rivalitas Terpanas Serie A

48
derby delle capitale

[dropcap]GG[/dropcap] Siapa pun penggemar sepakbola pasti pernah mendengar istilah Derby della Capitale, sebuah sebutan yang ditujukan untuk pertandingan antara dua klub dari kota Roma, ibukota Italia. Dua klub yang sudah menabuh genderang permusuhan sejak laga pertama mereka jalani. Suporter kedua pihak bermusuhan di segala hal. Itu adalah tipikal fans kedua klub yang saling berseteru, di manapun, di negara manapun.

Derby adalah salah satu istilah yang sering kita  dengar di dunia sepakbola. Pengertian dari derbi sendiri di kamus sepakbola bisa diartikan sebagai pertadingan antara dua klub sepakbola yang berhomebase di kota yang sama. Namun kemudian istilah itu semakin diperluas sehingga mencakup dalam satu provinsi, region, wilayah, bahkan negara. Kenapa pertandingan derbi selalu menjadi perhatian? Tidak lain karena keseruan, prestasi dan prestise yang dipertaruhkan dalam laga tersebut. Rivalitas antara dua tim yang bertanding membuat suporter memadati stadion. Tampil dengan identitas yang mencolok demi mendukung tim kesayangan mereka. Tidak jarang bentrokan antar fans terjadi bila pihak keamanan tidak sigap mengantisipasi gerakan dan tingkah polah para penonton.

Dari sekian banyak rivalitas, salah satu derbi yang paling panas ada di Liga Italia. Dulu, di era 1990-an, ketika Serie A begitu menyita perhatian penggila bola dunia, pertarungan antara AS Roma dengan Lazio adalah yang paling panas (menurut saya). Bahkan melebihi Derby della Madonnina yang bisa dimaknakan sebagai ibunya segala derbi, antara Internazionale Milan dengan AC Milan. Atau Derby della Molle yang diperankan dua klub kota Turin, Juventus dan Torino.

derby delle capitale

Yang membedakan derbi kota Milan dengan Derby della Capitale adalah basis pendukungnya. Kedua klub Milan merupakan klub kaya sedangkan duo Roma dipisahkan oleh status ini. Konfrontasi antara kaum *proletar (basis massa fans AS Roma) melawan kaum borjuis yang diidentikkan dengan fans Lazio menjadi akar permusuhan mereka.
Militansi pendukung dua klub Roma melebihi dari klub-klub lain di Italia. Mungkin hanya fans Napoli yang mampu menyamainya. Atau sebuah laga derbi di luar Eropa sana, yaitu derbi yang berlabel Super El Clasico di tanah Argentina antara Boca Juniors versus River Plate. Basis fansnya dan tingkat militansi mungkin menyamai atau bahkan lebih dari derbi ibukota Italia.

Derby della Capitale juga merambah ke aspek-aspek lain. Misalnya di bidang politik, mereka pun berbeda. Pendukung Lazio berafiliasi dengan politik sayap kanan, sedangkan fans Roma sebaliknya. Dalam aspek lainnya, tifosi Roma menganggap klub mereka adalah satu-satunya klub asli kota Roma. Lazio itu klub abal-abal Roma karena mayoritas pendukungnya memang berbasis di pinggiran kota Roma. Sebaliknya, suporter Lazio mengklaim klub merekalah yang sejatinya milik ibukota Italia tersebut. Alasannya, klub dengan warna khas biru langit itu lebih dulu berdiri, yaitu tahun 1900. Sedangkan AS Roma baru dibentuk pada tahun 1927.

Jangan tanya soal kebencian kepada kedua fans ini, kebencian pada klub lawan sudah menjadi DNA. Kebencian itu keharusan. Kebencian terhadap klub rival harus melebihi kecintaan terhadap klub kesayangannya. Sikap itu diwarisi secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Jose Mourinho sudah merasakan bagaimana klub yang dibesutnya, Inter Milan mendapat ‘hadiah’ dari Lazio ketika bersaing dengan AS Roma untuk merebut Scudetto musim 2009/2010. Fans garis keras Lazio menyuruh pemainnya mengalah saat bersua Inter Milan agar jalur juara terbentang mulus bagi klub Mourinho. Para Laziale tidak rela bila tropi Serie A masuk lemari Si Serigala. Ironisnya, posisi I Biancocelesti saat itu sedang terancam degradasi. Tertahan di posisi di peringkat 17 dan hanya berjarak empat poin dari zona merah. Bayangkan, mereka rela klubnya bermain di Serie B daripada melihat Romanisti mengangkat tropi.

Begitulah panasnya perseturuan di Derby della Capitale. Untuk level permusuhan, masih banyak laga-laga lain yang setara atau melebihi seperti derbi Old Firm antara Celtic FC dengan Glasgow Rangers di Skotlandia, The Big Three Derbies di Turki antara Besiktas – Galatasaray – Fenerbahce. Di Inggris ada Marseyside Derby (Leverpool-Everton), North London Derby (Arsenal-Tottenham), dan Manchester Derby (MU-MC).

Kemudian ada juga pertarungan dua tim bukan sekota, tapi juga dijuluki derbi, semisal Juventus vs Inter Milan yang dikenal dengan istilah Derby d’Italia, El Clasico antara Barcelona dengan Real Madrid, De Klassieker antara Ajax vs Feyenoord di Belanda. Der Klasiker di Jerman antara Bayern Munchen versus Borussia Dortmund.

Di semua negara ada rivalitas, selama ada dua klub yang saling berebut simpati, berebut identitas, berebut prestasi, berebut wibawa, dan berebut apa saja yang bisa menomorsatukan klub kesayangan mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here