Pesepakbola Ini Anak Seorang Presiden

37
Pesepakbola Ini Anak Seorang Presiden
Tim Weah bersama ayahnya, George Weah saat mendaftar di Akademy PSG

Profesi pesepakbola bisa disandang oleh siapa pun tanpa mengenal status sosialnya atau apa saja yang menjadi batas perbedaan seseorang. Bisa dari kalangan orang kaya atau anak orang miskin. Bisa berkulit hitam, putih, atau kuning. Juga bisa datang dari kalangan terpelajar ataupun putus sekolah. Tapi tahukah Anda bila pesepakbola ini anak seorang presiden atau pemimpin dari sebuah negara berdaulat? Ayo baca!

TIMOTHY WEAH

Siapa yang kenal Timothy Weah pemain binaan Paris St. Germain, salah satu klub papan atas Ligue 1 yang seja Januari 2019 dipinjamkan ke klub SPL, Celtic FC? Pasti tidak banyak yang kenal, karena dia bukan siapa-siapa dan belum jadi apa-apa.

Dia hanyalah seorang anak muda berusia 18 tahun yang sedang meniti karir cemerlang bersama klub dan negaranya. Tim Weah, begitu nama populernya, sudah melakukan debut bersama tim nasional senior Amerika Serikat pada tanggal 27 Maret 2018 yang lalu. Padahal pada tanggal 3 Maret dia baru saja merasakan debutnya bersama PSG senior. Sebuah kebanggaan yang datang secara beruntun.

Tapi siapa sangka, pemain kelahiran New York City, USA, 22 Februari 2000 yang bermain sebagai penyerang ini adalah anak seorang presiden. Bukan presiden ecek-ecek, jugan bukan presiden direktur, tapi presiden beneran. Presiden dari sebuah negara berdaulat yang berpenduduk lebih kurang 4,5 juta jiwa.

Kalau sedikit lisek, dari namanya, sebagai penggemar sepak bola, anda pasti bisa menerka dan mengaitkan dengan nama salah satu bintang lapangan hijau era 90-an, George Weah. Bintang Serie A di era 1990-an. Benar, Anda benar!

Begitu menyinggung nama George Weah, semua baru ngeh. Siapa tidak kenal George Weah, pesohor sepak bola dari benua Afrika. Tepatnya Liberia, sebuah negara di pesisir barat benua hitam. Bukan pemain biasa karena Weah adalah orang Afrika pertama yang meraih Ballon d’Or (1995) dan menjadi pemain berkulit hitam kedua setelah Eusebio (1965) yang mendapatkan penghargaan tertinggi bagi pemain dunia. Eusebio sendiri asli asal Mozambik tapi berkewarganegaraan Portugal.

OK! Meski benar dia anak dari bintang AC Milan tersebut, tapi Weah kan bukan seorang presiden. Nah, kali ini anda salah! Siapa bilang George Weah bukan seorang presiden? George Weah sekarang menjabat sebagai Mr. Presiden Liberia, yang diembannya sejak Januari 2018. Dan semenjak itulah Tim Weah berstatus anak presiden.

Kita kembali ke persona pesepakbola yang anak seorang presiden, Tim Weah. Memiliki seorang ayah bintang sepakbola bukan berarti dia mengenal sepak bola dari sang ayah. Tim pertama kali mempelajari olah raga tendang menendang bola melalui sang ibu. Ibunya sedikit akrab dengan sepak bola karena di negara asalnya, Jamaika, sepak bola adalah olah raga yang paling digemari, olah raga masyarakat kelas bawah. Meski prestasi sepakbola negerinya Bob Marley biasa_biasa saja, namun sebagian pemain asal negara dari kawasan Karibia ini cukup banyak yang akrab di telinga penggemar sepak bola terutama fan Liga Inggris. Sebut saja, John Barnes, Viv Anderson, Sol Campbell, Andy Cole, dan David James. Di Piala Dunia 2018 beberapa anggota skuad tim nasional Inggris juga mengalir darah keturunan Negeri Reggae. Ambil contoh : Raheem Sterling, Dany Rose, Kyle Walker dan Ruben Loftus-Cheek.

Tim Weah didampingi ayahnya saat tandatangani kontrak

Jadi ada benang merahnya ketika Tim mengetahui seluk beluk sepak bola sejak kanak-kanak melalui ibunya. Sedangkan ayah sudah tidak sempat karena sudah sibuk agenda politiknya di Liberia sana. Menjadi politikus memang menjado orang sibuk.

Dalam perjalanannya, Tim tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri di lingkungan dan sahabat Amerikanya. Selain menggemari sepak bola, Tim paling hobi berkarya lewat musik [soul trap]. Kalau sedang asyik dengan musik, dia bisa seharian mengurung diri di studio, di rumahnya.

Sempat mengikuti trial di Akademi Chelsea saat umur 13 tahun, namun kemudian sang ayah memindahkannya ke Akademi PSG di kota Paris, klub yang sempat dibela ayahnya. Dasar berbakat, waktu pertama kali diturunkan sebagai starter, Tim langsung mencetak hatrik. Saat itu dia sudah bermain untuk timnas Amerika Serikat untuk level umur di bawah 14 tahun. Terakhir dia memperkuat timnas U-17 sebelum memutuskan masuk skuad Uncle Sam senior.

Kedewasaan Tim semakin terlihat ketika dia berani memutuskan untuk memperkuat timnas senior Amerika Serikat bukan Liberia (negeri ayahnya), Jamaika (negeri ibunya), atau Prancis (negeri tempat dia berdomisili sekarang). Tim punya pandangan sendiri soal tim nasional, dia tidak mau berkembang dengan bayang-bayang kesuksesan ayahnya, apalagi sekarang ayahnya seorang presiden. Tim tidak mau dianggap memanfaatkan posisi politik dari sang ayah demi menopang proses karirnya.

Dia ingin tumbuh sebagai Timothy Weah yang utuh. Dia mendedikasikan diri untuk Amerika Serikat karena menurutnya, itulah negerinya.

“Aku mencintai Amerika karena di sinilah aku lahir, di sinilah aku banyak memiliki sahabat, semuanya aku dapatkan di sini”.

Itulah Tim Weah, dia sedang berusaha keras untuk mengikuti jejak prestasi ayahnya. Jalan itu sedang dilaluinya bersama Paris St. Germain (sekarang dipinjamkan ke Celtic). Tim termasuk dalam skuad yang dibawa pelatih Thomas Tuchel dalam tur pra musim 2018/2019 dalam ajang International Champions Cup 2018. Sempat dimainkan tiga kali sebagai starting eleven.

Tita Weah, George Weah, George Weah Jr, dan Tim Weah dipangku ibunya, Clar Weah

 

AL SAADI KHADAFI

Rintisan karir yang dipilih oleh Tim Weah sungguh berbanding terbalik dengan apa yang lakukan oleh Al Saadi Khadafi. Al Saadi adalah juga salah satu pesepakbola anak seorang presiden. Dia merupakanputra ketiga mantan Presiden Libya, Muammar Khadafi.

Pada tahun 2003, saat usianya menginjak 30 tahun, usia senja untuk seorang pesepakbola. Dengan pengaruh dan nama besar sang ayah, Saadi memberanikan diri untuk mencoba peruntungannya di Liga Italia. Lamaran Saadi diterima di Perugia yang saat itu dimiliki oleh pengusaha kontroversial Luciano Gaucci. Siapa yang tidak kenal Gaucci, orang yang memutuskan kontrak secara sepihak terhadap pemain Korea Selatan, Ahn Jung-Hwan gara-gara Ahn mencetak gol yang menyebabkan Italia tersingkir dari Piala Dunia 2002.

“Saya tidak pernah berniat membayar gaji orang yang telah merusak sepak bola Italia”, katanya kala itu.

Gaucci yang suka kontroversi mengikat kontrak dua tahun dengan Saadi, meski dia tahu betul kualitas seorang Saadi. Memang benar, saat Saadi memegang ban kapten tim nasional Libya, semua orang mengiyakan kalau itu bukan karena kemampuannya melainkan karena ada intervensi sang penguasa, Muammar Khadafi. Karena dia anak seorang presiden

Saadi ketika menandatangani kontrak dengan Perugia, bersama Luciano Gaucci

Semua kualitasnya tergambar di lapangan, 18 kali merumput bersama tim nasional Libya, Saadi cuma menyumbang dua gol saja. Jadi sangat masuk akal ketika dia memasuki ranah sepak bola Italia yang dikenal keras, Saadi tidak sanggup membuktikan apa-apa. Selama dua musim dia hanya tampil sekali. Benar, SEKALI!

Patah arang di Perugia, dia beralih ke klub Serie A lainnya, Udinese. Tidak berubah, sepanjang musim Saadi hanya diberi satu kali kesempatan untuk bermain. Setahun kemudian pindah lagi ke Sampdoria pada musim 2006-2007. Karir sepakbolanya semakin buruk di klub yang bermarkas di kota Genoa ini. Saadi sama sekali tidak diberi menit bermain.

Begitulah, meski dia anak seorang presiden, kalau karir dikejar bukan dengan jiwa dan kualitas yang baik. Semuanya akan memuai begitu saja seiring umur berjalan. Sadar tak mungkin lagi mencari ketenaran lewat si kulit bundar, Saadi kemudian hari beralih profesi sebagai pebisnis khususnya bisnis industri film.

Saadi Khadafi berduel dengan Alessandro Del Piero

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here